Ulasan: Daughters of the Dragons

Wow.

Cuma itu kata yang bisa keluar dari mulut gue ketika sampai di kalimat terakhir dari buku ini. Kata “wow” itu sendiri bukan pertama kalinya keluar di akhir buku ini, tapi sudah menemani gue selama 3 hari gue berusaha menyelesaikan buku ini ditengah-tengah kesibukan mengerjakan pekerjaan lab dan menulis abstrak. Gue benar-benar merasa buku ini memberikan gue pandangan baru akan sejarah perang dunia kedua dan membuat gue beberapa kali depresi.

Jadi, sejarah tidak pernah menjadi topik favorit gue. Baik itu tentang kerajaan sriwijaya dan periode sekitarannya, tentang perang dunia kedua, hingga detik-detik menuju kemerdekaan Indonesia. Ya, nilai sejarah gue semenjak bangku sekolah tidak pernah berada diatas angka 7. Bahkan untuk beberapa hal seperti apa itu komunis, apa itu kapitalis, semua hanya sekedar pemahaman asal lewat dari membaca berita yang beredar di jejaring sosial dan beberapa clickbait provokatif.

Daughters of the Dragon: A Comfort Woman Story adalah buku fiksi dengan latar belakang sejarah yang diusahakan seakurat mungkin. Buku ini menceritakan tentang karakter fiksi, seorang wanita korea yang dijadikan perempuan penghibur bagi tentara jepang. Tapi, buku ini tidak hanya sampai pada saat sang wanita ini menjadi penghibur, buku ini juga membahas aspek sejarah hingga setelahnya dengan berpusat pada Korea sebagai pusatnya.

Gue paham, untuk mengetahui hingga bisa berkata “paham” seutuhnya tentang komunisme dan kapitalisme, gue harus membaca banyak buku terlebih dahulu. Tapi gue akui, buku ini berhasil membuat gue berpikir pada konsep dasarnya, mungkin kedua konsep tersebut terlihat baik. Namun pada kenyataannya, banyak pelaksanaan yang korup dan kotor sehingga ketika kedua paham tersebut menapaki titik ekstrem, kedua paham tersebut menjadi berbahaya. Kalau komunisme, gue rasa kita cukup paham dengan sejarah kita (meskipun gue sadar gue masih perlu banyak belajar lagi) dan gue cukup paham dimana komunisme menjadi salah sehingga bisa melihat keterkaitannya dengan sejarah kita. Sedangkan untuk kapitalisme, gue juga melihat penggambarannya dalam cerita ini, bagaimana sebuah nyawa bisa selamat tapi dari situ juga gue menjadi mempertanyakan apa arti selamat ini.

Terlepas dari kedua paham tersebut, buku ini juga membuat gue sedikit lebih paham apa yang terjadi dengan perang dunia kedua. Bagaimana posisi Jepang, bagaimana posisi Rusia dan bagaimana posisi Amerika. Gue suka bagaimana penulis menyelipkan latar ini ditengah drama kehidupan Jae-Hee.

Lagi, menjadi tawanan perang secara konsep tidak akan pernah mudah. Buku ini berhasil memberikan gambaran dalam benak gue bagaimana seorang wanita yang tidak paham apapun menjadi tawanan perang dan nasibnya ketika menjalani masa menjadi tawanan — mengerikan. Tapi hal ini justru menjadi sebuah titik bagi gue untuk membuka pikiran gue. Kenapa belajar sejarah itu menjadi penting.

Ada juga satu hal yang membuat gue suka dengan buku ini adalah bagaimana kekuatan seorang wanita dalam menjalani hidup. Cerita ini mengangkat tema hidup itu tidak adil, tapi bagaimanapun juga, kita tidak bisa memilih akan dilahirkan dimana dan oleh siapa. Hal yang bisa kita lakukan hanyalah menjalani dan berjuang untuk hidup. Memang tidak mudah, meskipun cerita ini fiksi, tapi kehidupan sebagai gadis penghibur pada masa perang benar terjadi. Mungkin apa yang mereka alami tidak sama persis dengan penggambaran dalam buku ini. Tapi bukan berarti yang mereka alami menjadi lebih ringan.

Dan terakhir, gue suka bagaimana penulis bisa menyelipkan 3 sudut pandang dalam satu buah cerita tanpa terasa janggal. Ketika gue selesai membaca buku ini, seketika itu pulalah gue paham kenapa penulis buku ini membuat sebagian cerita menjadi naratif masa sekarang. Karena hanya dengan gaya penulisan itulah momen tersebut dapat tersampaikan dengan baik. Dan dari sadar akan hal inilah membuat gue bisa menyimpulkan gue juga belajar soal gaya penulisan sastra.

Untuk singkatnya, gue berhasil mempelajari sejarah, pesan moral hidup dan gaya penulisan sastra hanya dari membaca satu buku ini. Gue paham, semua pelajaran itu hanya sebagian kecil dari semua pengetahuan yang ada di dunia ini. Tapi kembali lagi, buku ini menjadi sebuah bacaan yang bisa membuat gue tertarik dari bab pertama dan membuat gue berhasil menyelesaikan buku ini. Sehingga, menurut gue, inilah yang penting dari sebuah buku. Ketika seorang penulis bisa membuat pembacanya terpaku dari bab pertama.