Jalan-jalan ke Cheddar Gorge

Sebetulnya ini kejadiannya sudah tahun lalu (27 Desember 2016) tapi gue baru sempat untuk menulis ini sekarang. Jadi beginilah cerita petualangan Dandri yang nyaris mati kedinginan di Lembah Cheddar (Cheddar Gorge) karena biasanya hidup di kamar tropisnya dengan pemanas kekuatan penuh. Oh iya, obrol-obrol Lembah Cheddar ini adalah tempat produksi awalnya keju jenis cheddar (kata orang-orang disana).

Jadi cerita ini dimulai dari gue yang selesai dengan pekerjaan gue di kampus tepat 2 hari sebelum natal. Dengan mendadak gue sadar gue perlu jalan-jalan. Awalnya gue mau ke Taman Nasional Exmoor. Sayangnya akomodasi disana penuh karena mendadak dan musim liburan, jadilah gue mencari alternatif dan gue ingat ada Lembah Cheddar di daftar gue. Sedikit mencari di jejaring dan selesailah gue mem-booking tiket untuk satu hari berkeliling di Lembah Cheddar sebesar £16. Mungkin mereka lagi berusaha memperkenalkan sistem daring, karena harga aslinya adalah £19 tapi kalau beli daring didiskon 15%.

Ketika hari H, gue awalnya berencana naik kereta ke Weston-super-mare dan lanjut naik bus. Masalah dari rencana ini adalah gue harus naik kereta jam 7 pagi yang kemudian dilanjutkan naik bus dan gue sampai di lembah cheddar pada pukul 11 siang. Masalah di musim dingin adalah matahari terbit setengah 8 dan terbenam jam 4 sore. Gue enggak mau keburu gelap disana dan gue kurang puas menikmati jalan-jalan, jadilah gue mengganti rencana gue dengan naik bus.

Alasan. Padahal memang malas bangun pagi. Dasar kentang berselimut duvet.

Yha maafkan.

Jadi 27 Desember jam 8 pagi, gue naik bus falcon dari depan Bristol Science Centre (kalau english united states bilangnya center). Iya ini bus yang dipakai kalau mau ke Langford juga. Faktanya, kalau ke Cheddar naik bus dari Bristol, tempat turunnya adalah 2 pemberhentian setelah Langford. Disini adalah harga yang harus gue bayar untuk kemalasan gue bangun pagi sekaligus hadiah terselubung dari tersasarnya gue.

Jadi kalau kata google maps, dari turun bus, gue perlu berjalan sedikit untuk naik bus yang langsung menuju Cheddar. Tapi sialnya, gue sedang ada di jadwal weekend meskipun itu hari selasa karena masih dalam waktu natal. Oh iya, ketika gue turun bus, suhu waktu itu -1 C dengan rumput sekitar yang membeku. Pintarnya, gue lupa bawa sarung tangan dan kupluk a-pila-nya-a-mau-selimutnya-juga-ga-a. Inilah alasan gue merasa nyaris ingin mati. Gue bener-bener takut tiba-tiba jari gue putus aja gitu karena sengatan beku.

Bus baru datang 1 jam lagi. Pemberhentian itu juga bukan yang model tempat duduk, tapi lebih ke suasana di film-film dimana selingkuhan yang kebawa di van dibuang di pinggir jalan tanpa pakaian gitu. Dalam kasus gue, tanpa sarung tangan dan kupluk. Inilah yang menjadi motivasi gue untuk coba berjalan saja ke Cheddar. “Lumayan, sekalian hunting foto di sekitar” pikir gue waktu itu. Inilah yang jadi asal kutukan gue karena jalan satu jam di suhu minus tanpa perlengkapan memadai tapi jadi kebahagiaan gue juga karena gue bisa menikmati pemandangan pedesaan dengan domba. Persis seperti bayangan gue akan desa winch yang dideskripsikan Bluebell dalam komik Lady Victoria.

30 menit berjalan di jalan yang cukup meragukan tanpa jalur pejalan kaki, gue sampai di daerah bernama Axbridge. Semacam tambunnya jakarta. Tempat yang disebut Town dan bukan City lagi. Gue nyaris tidak menemukan orang disini. Daerah ini cukup besar, tapi gue hanya bertemu dengan sekitar 20 orang dari gue tersasar disini. Iya, gue si kentang ini akhirnya memutuskan untuk mencari bus untuk ke Cheddar karena gue merasa lelah dengan berjalan ditengah ketidakpastian ini. Jadi gue sempat sampai ke Town Centrenya Axbridge tapi akhirnya putar balik lagi mencari bus.

Setelah naik bus (yang ternyata penyedia bus yang sama dengan kota Bristol, first bus), gue sampai di daerah yang dibilang oleh google maps. Dari situ gue masih berjalan lagi sekitar 5 menit tapi dengan kondisi daerah yang lebih terlihat hidup. Gue bisa langsung tahu ini tempat wisata menilai dari banyak toko oleh-oleh dan bar.

Ada jembatan kecil yang harus disebrangi dan dari situ bisa terlihat sungai yang jernih dengan air yang gemericik. Tidak jauh dari situ juga ada kolam dengan burung-burung yang sedang main air. Enggak, ini gue berusaha mendeskripsikan suasana alam yang bagus, bukan berusaha menyelipkan gadis model kalender ataupun semacam eksibisionis di daerah wisata, bukan.

Enggak jauh dari jembatan ada tempat parkir mobil. Mungkin ini kayak pintu masuk ancol gitu yang dimintain tiket. Untung gue mengetik ini di laptop jadi enggak mungkin typo. Terus enggak jauh dari situ juga, akhirnya ada toko oleh-oleh yang buka. Kenapa gue semangat? Karena gue mau beli magnet, kartu pos, dan SARUNG TANGAN. Karena gue sadar harga jari itu mahal. Kalau mau beli, paling enggak gue harus investasi dana riset prosthetic limb. Di sebelah toko oeh-oleh, gue menemukan toko bernama Cheddar Cheese Company. Gue menduga ini seperti cimory. Tapi mungkin levelnya sudah seperti negara api karena ia berhasil membuat orang menyebut keju dengan jenisnya. Seperti odol dan aqua. Tidak seperti mizwan.

Sudah beli sarung tangan dan kupluk, Dandri sudah siap. Lanjutlah ia berjalan menuju gedung informasi untuk mengambil tiket. Habis ambil tiket, sang mbak menyarankan gue untuk ke museum dulu baru ke “Dreamcatcher” yaitu sebuah atraksi multimedia dalam goa yang menceritakan jejak evolusi manusia. Tapi karena gue bingung kemana harus berjalan untuk ke museum, jadilah gue menunggu di depan atraksi tersebut sampai dibuka. Ternyata, atraksi ini isinya adalah goa yang benar-benar goa (agak heran juga sama kalimat ini). Dan pintu ditutup, jadilah gue benar-benar sendirian dalam goa ini.

Atraksi ini keren. Jadi kayak setiap ada ruangan goa yang agak lebar, ada proyektor yang memutar multimedia langsung ke dinding goa dan ada animasi manusia goa dan cerita evolusi mereka. Jalan didalam goa ini sendiri agak bercabang, tapi petunjuk jalan ada di akhir video multimedia tersebut. Jadi kita harus mengikuti arah lari manusia goa tersebut. Hal paling keren adalah di bagian akhir, ada seperti permainan cahaya laser dengan cerita pemandangan yang dilihat manusia goa tersebut ketika malam. Interaksi multimedianya sangat keren, bahkan ada bagian ketika ada banjir, satu sisi goa tiba-tiba terbuka dan ada air terjun yang benar-benar muncul disamping kita.

Selesai dari goa ini, gue agak bingung dengan jalur perjalanan si Lembah Cheddar ini. Di tiket sih dibilang gue berjalan berlawanan arah jarum jam, tapi orang -orang entah mengapa mengikuti searah jarum jam. Tapi disini gue berusaha untuk lebih percaya pada tiket gue dan tidak melulu harus “ikut-ikut” kebanyakan orang. Dan gue berusaha mengurangi ke-inferior-an gue dengan berpikir bukan berarti karena mereka orang asing, terus mereka pasti benar dan tahu semua jawaban. Enggak. Jadilah gue melawan kebanyakan arah orang dan memulai pendakian gue dari menara pandang.

Jadi atraksi utama si Lembah Cheddar ini adalah tracking menaiki lembah tersebut untuk berfoto dari atas dan memutari lembah tersebut. Selain itu disini adalah tempat produksi keju seperti yang gue bilang diatas dan tempat pertama kali ditemukannya manusia jaman es dalam goa. Jadi kalau dibilang film Ice Age, ya disini.

Gue suka banget pemandangan dari atas menara pandang. Gue bisa melihat Lembah Cheddarnya dengan jelas, gue juga bisa melihat Axbridge dimana gue tersasar tadi dan ada juga danau cheddar yang pasti dilewati kalau mau kesini. Di menara pandang tersebut juga ada tulisan di bagian pegangan tangan arah mana menuju kota apa dan seberapa jauh. Gue juga enggak sendiri, diatas sini gue bersama seorang pasangan yang sedang berciuman panas. Gue sih berusaha cuek cuma lama-lama ingin juga. Karena itulah gue juga enggak bisa lama-lama di atas dan memutuskan untuk memulai hiking.

Enggak, gue enggak memfoto pasangan tersebut.

Nah dari sini mulailah pendakian gue. Kata pamfletnya sih normalnya 2 jam. Tapi gue juga enggak tahu akan segitu atau enggak karena langkah gue lebih lambat dari orang-orang sini kebanyakan. Tapi inilah asiknya jalan-jalan sendiri, gue cuma perlu memikirkan langkah gue dan gue enggak perlu buru-buru. Jadi perlu dicatat dari awal kalau gue emang enggak ingin buru-buru karena…. gue menghabiskan…. 4 jam.

Kebetulan ketika beli tiket, gue juga beli pamflet panduan lembah ini dan gue baru tahu kalau disini banyak flora fauna menarik yang menurut gue perlu untuk diamati:

  • Feral Goat: Sebetulnya sih ini kambing aja. Tapi ini adalah spesies kambing tertua di Inggris. Kalau bingung penampilannya gimana, bayangin kepala kambing yang buat pesugihan jaman kegelapan. Tah eta. Kalau situ gamer, bayangin Baphomet. Beres.
  • Peregrine Falcon: Iya, ini burung yang jadi inspirasi utama di film Miss Peregrine and Peculiar Children. Jadi burung ini bisa dilihat disini. Oh iya, burung ini di bagian matanya seperti ada eyeshadow yang tebal. Persis seperti miss peregrine itu. Oh iya gue sepertinya melihat burung dengan bunyi unik, gue enggak tahu itu si burung ini atau bukan, tapi gue yakin bukan gagak karena bunyi gagak lebih mengganggu dari apa yang gue dengar.
  • Dormouse: Sebetulnya ini kayak tikus aja. Tapi dormouse ini adalah jenis tikus yang sering ada di dongeng dan cerita rakyat orang Inggris. Gue sejujurnya penasaran ingin lihat.

Hal lain yang perlu dicatat dalam pendakian disini adalah jalur pendakiannya sangat mudah berlumpur. Beruntung gue pakai Karimoor, gue enggak mengalami masalah. Mungkin jalurnya mirip dengan ketika kuliah lapangan di pangandaran. Bedanya sih dingin saja. Gue senang dengan pendakian disini karena gue melihat banyak hal. Dari keluarga yang membawa anak-anak untuk hiking dan panik karena si anak kecil ini lompat dengan semangat ke lumpur (gue juga mau…), pasangan kakek-nenek fit yang gue juga ingin bisa seperti mereka ketika tua nanti, sampai keluarga bapak-anak-anak yang membantu gue memilih jalan ketika tersasar di atas lembah.

Selesai pendakian, gue merasa remuk. Jadi kesalahan gue adalah gue berencana menginap di tempat teman gue di Langford setelah dari Cheddar sehingga gue membawa berbagai barang untuk menginap. Tapi gue tidak merasa pendakian tersebut sia-sia karena gue sesenang itu untuk mendapatkan sentuhan alam (dan mungkin maut karena beberapa kali gue nyaris tergelincir).

Sehabis mendaki, gue menghampiri museum manusia goa. Gue enggak bisa terlalu lama karena saat itu sudah nyaris gelap, sekitar jam 4 sore. Museum ini menarik banget untuk mereka yang suka dan paham akan evolusi. Enggak hanya evolusi manusia, tapi juga peradabannya. Bahkan ada tutorial menggambar alis  membuat senjata dari batu. Disini juga ada mural yang digambar orang jaman dahulu. Sangat menarik.

Gue sadar gue belum ke goa satu lagi dimana bisa berjalan-jalan seru. Tapi karena sudah terlalu gelap, gue juga mulai takut, jadi gue batalkan. Perut gue juga seolah setuju, dia meminta diisi makanan karena gue baru ingat terakhir makan adalah roti lapis yang gue beli di Co-operative food di Axbridge. Melipirlah gue ke tempat bernama Lion Rock. Sebuah tempat makan yang sangat rustic. Gue merasa sangat lapar jadilah gue memesan sup musim dingin, roti lapis ayam pegar, kentang goreng, scone and jam dan teh mawar. Rasanya? enggak perlu ditanya. Oh iya scone and jam disini rasanya beda dengan biasanya. Mungkin karena krimnya lebih segar?

Selesai makan (dan tokonya yang sudah mau tutup), gue keluar dan benar-benar gelap. Tidak ada orang satupun. Padahal baru jam 5 sore. Gue juga sudah lelah dan gue memutuskan ingin pulang saja. Ini disebabkan karena terlalu kedinginan dan gue enggak bisa berpikir. Gue hanya ingin pulang menemui kasur empuk dan mandi air hangat membersihkan semua lumpur.

Kembali ke halte bus, bus baru ada jam 6. Suhu saat itu masih -1 C. Bedanya, kali ini gue sudah lebih siap dengan sarung tangan. Karena malas dan enggan keluar uang lagi (dengan masuk ke bar dan memesan camilan + air keran), gue memutuskan untuk duduk di halte menunggu bus dan menonton How to get away with murder dari kindle gue. 20 menit sebelum bus datang, ada ibu-ibu yang baru datang dan mengajak mengobrol. Ramah, ia menanyakan gue darimana. Gue cukup senang karena gue bisa berkomunikasi tanpa masalah.

Sedatangnya bus, gue menolak untuk turun tengah jalan dan menunggangi bus falcon menuju Bristol. Gue menolak untuk menjalani yang gue alami tadi pagi. Jadilah gue terus naik bus ini sampai Weston-super-mare dan menyambung naik kereta. Sempat ketiduran dan kehilangan sinyal, gue berkali-kali memencet tombol berhenti padahal belum sampai stasiun. Akhirnya sang supir bus berbaik hati memberitahu gue kalau nanti sudah sampai di pemberhentiannya.

Sampai stasiun, tidak ada loket yang buka. Pembelian tiket dilakukan di mesin otomatis. Pertama kali berurusan dengan mesin ini, gue agak norak dan coba-coba semua menu mumpung enggak ada orang yang lihat. Ternyata kalau beli tiket disini bisa dipakai untuk jam kapan saja!

Kereta datang, gue naik, gue turun di Bristol dengan setengah sadar semenjak terbangun kaget di bus Weston-super-mare dan masih kedinginan. Gue pindah ke bus lokal Bristol dan akhirnya gue sampai ke flat gue dengan selamat dan mengucap syukur gue masih hidup. Kalau ini game dan selera humor pembuat game ini jelek, bisa saja gue dibuat game over entah karena kedinginan, tertabrak mobil pagi-pagi, terpeleset di jurang, serangan panik  dan terpeleset mati di goa, atau bahkan mendadak menyerah dengan hidup dan tiduran di jalan tanpa kankaho.

Seperti itulah perjalanan gue ke Cheddar. Gue sadar ini panjang banget. Selamat untuk yang baca sampai sini. Gue sangat bersedia untuk menemani ke Cheddar lagi. Masih banyak yang belum gue lihat disini dan gue jatuh cinta dengan alam disini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s