Mengejar Doktoral, awal 2017

Halo, selamat menempuh tahun baru dan semoga semua lancar.

Iya, jadi gue sudah hidup di negeri orang ini selama kurang lebih 4 bulan terhitung dari awal September. Intinya sih, gue cuma ingin berbagi tentang apa yang gue rasakan dengan menjalani kehidupan doktoral di usia 25 tahun ini.

Kalau tiba-tiba ada orang dengan gaya “reporter-ngewawancarain-artis-baru-keluar-dari-pengadilan-agama”: “mas gimana rasanya mas?” gue cuma akan menjawab dengan senyum simpul “Alhamdulillah yah, tidak mudah”. Iya, ucapan ini masih keluar dari mulut gue sendiri yang biasanya ketawa ketiwi sambil teriak kenceng “LO MUSTI TAU”.

Mengapa demikian? Jadi ada baiknya sedikit mundur ke latar belakang gue dulu.

Gue, anak kedua dari 7 bersaudara (tapi gue cuma tinggal sama nyokap + adik + asisten rumah tangga +kucing). Seringkali gue menjadi cowok yang ada dirumah dengan peran mengangkat galon aqua (bukan, bukan lagi push-up), mengurus semua hal berbau teknologi termasuk membantu nyokap mengubah 1 halaman pengolah kata menjadi landscape ditengah halaman potrait lainnya, sampai beberapa kali menjemput kucing pulang pergi untuk mandi jamur.

Gue, seorang lelaki usia 25 tahun yang pada layaknya mengalami berbagai patah asmara (karena kalau hati kesannya gue suka minum alkohol), hingga pada tahap memilih fokus pada karir dan studi dibanding mengurus panggung pelaminan. Gue sendiri sudah memberikan izin pada adik gue untuk “melangkahi” karena gue belum berencana dalam waktu dekat.

Gue, seorang yang 25 tahun hidupnya jauh lebih suka hidup di kamar dibanding jalan-jalan keluar atau menikmati hiruk pikuk perkotaan dan hingar bingar dunia malam. Lebih memilih untuk menjelajahi dataran Sumatra dalam 13 hari dan beberapa daerah sepanjang pulau Jawa dibanding menjelajahi Singapura ataupun Malaysia. Paspor gue sendiri hanya ada cap imigrasi saudi arabia pada kelas 2 SMA. Sisanya? Nihil. Gue sama sekali enggak pernah keluar negeri sendiri apalagi interaksi dengan orang asing secara langsung selain atasan waktu kerja dulu.

Maafin panjang, tapi kurang lebih itu adalah pembukaan untuk membuat tulisan dibawah ini lebih bisa dimaklumi.

Sejauh ini, kalau gue kategorikan, ada 2 hal yang harus gue hadapi dalam 4 bulan doktoral ini: kultur sehari-hari dan perkuliahan.

Ada apa dengan kultur sehari-hari? MENURUT MANEH??? Poho siah punten sundana kaluar. Yah intinya mah kultur di negara ini sangat beda dengan di negara asal. Dari makanan, bahasa, kebiasaan cebok (yang ada di post lainnya), pasaran tinder, hingga cuaca. Semuanya, tidak mudah. Harus adaptasi itu enggak mudah, apalagi ditengah rasa mencekam uang sewa kosan yang bikin tarik nafas sampai liang kubur. Tapi pada akhirnya sih semua baik-baik saja. Cuma culture shock biasa ditambah quarter’s life dilemma yang sudah mulai bisa diatasi. Inilah kenapa kalau gue punya anak nanti, gue pengen bisa kayak nyokap gue ngegedein gue, enggak dimanja dan dibiarkan untuk nyelesaiin masalahnya sendiri. Dan pastinya meskipun harus gue akui ibadah gue masih suka ada aja bolongnya, gue pasti akan menyelipkan doa untuk anak gue nanti untuk selalu ada di lingkungan yang baik selayaknya yang selalu nyokap gue sisipkan di setiap doanya.

Tapi inti dari culture shock ini sih, intinya lebih karena gue kurang interaksi dengan orang asing dan bertukar kultur aja sih. Semua makin baik dengan adanya tetangga gue yang selalu menjadi teman interaksi gue selama 4 bulan ini ditambah gue sebagai orang asia sendiri di lab (yang bahkan semua bingung ketika tahu gue enggak pernah merayakan natal di Indonesia) dengan kultur yang sangat berbeda. Gue bahkan baru tahu kalau di negara ini kartu ucapan digunakan untuk segala kesempatan, bukan cuma untuk nyelipin uang untuk kado ulang tahun.

Nah kemudian, ini dia poin yang paling penting dari tulisan ini. Kehidupan akademik gue.

Mungkin satu hal yang gue pelajari dari kuliah master gue adalah untuk tidak berpikir terlalu banyak. Essay? Tulis dulu aja. Bener-salahnya ya nanti kalau udah jadi. Justru pola pikir ini sepertinya yang membuat gue sukses bertahan sampai detik ini. Gue benar-benar percaya berpikir berlebihan itulah yang ngerusak produktifitas. Dan kalau gue pikir lagi, justru ilmu yang gue dapat dari kuliah master gue kemarin malahan pola pikir. Ilmu biologinya ya berdasarkan apa adanya dan selalu bisa dipelajari dari buku lainnya.

Nah akibat dari kuliah master inilah (dan mungkin dialami kebanyakan mahasiswa master disini), pola pikir dari sistem pendidikan di Indonesia itu berbeda dengan pola pikir disini. Sebetulnya, pengetahuan kita enggak kalah kok. Cuma saja, masalah perbedaan istilah, bahasa, dan landasan berpikir itulah yang membuat kebanyakan pelajar rantau disini merasa tidak bisa mengikuti perkuliahan. Gue sendiri selama 4 bulan disini lebih banyak mendengarkan. Belajar semua dari dasar, menyerap semua tanpa disanggah. Baru setelah gue punya waktu, gue sortir semua informasi itu dan dicocokkan dengan ilmu yang gue punya. Intinya sih, gue seharusnya baik-baik saja.

Pembimbing gue disini baik. Staf pendukung dan teman lab juga semua baik. Hanya saja, masalah gue disini adalah ekspektasi dan realita yang gue jalani. Gue terbiasa dengan sistem dan kurikulum yang disuapi hingga kuliah master gue selesai. Disini? Gue enggak mendapat penjelasan kurikulum secara gamblang dan formal. Enggak ada tuh, sistem Kartu Rencana Studi (KRS) dan mata kuliah pilihan. Disini gue bebas duduk di kelas manapun yang sekiranya bermanfaat untuk penelitian gue. Jadi satu bulan pertama gue duduk di kantor dan lab gue, gue cuma bengong. Oke mungkin gue membuat proposal penelitian untuk beasiswa dan kampus. Terus apa? Enggak ada tur fakultas, pengenalan formal jabat tangan, dan penjelasan kurikulum doktoral. Semua dilewati dengan berjalan. Gue bahkan baru tahu kalau ada deadline pengumpulan proposal baru di bulan februari, laporan kemajuan tiap tahun, dan sidang akhir (yang disebut viva) disini dalam 1 bulan terakhir.

Intinya, gue merasa seperti anak domba tersesat. Tapi setelah gue berpikir lagi, ini wajar saja kok. Gue banyak kosong bukan karena gue yang membuang-buang waktu. Tapi pembimbing gue sendiri mungkin memberi waktu itu untuk gue beradaptasi dan menyiapkan berbagai persiapan lab. Jadi beberapa waktu kosong itu seharusnya memang untuk gue istirahat dan membaca-baca saja.

Kesimpulannya, kehidupan doktoral itu jauh dari apa yang gue ekspektasikan. Alhamdulillah, tidak mudah. Tapi juga tidak semengerikan yang gue bayangkan. Justru yang membuat gue tidak mudah lebih karena kultur dari Indonesia yang terlalu tertanam di gue sehingga akhirnya gue malah jadi sulit beradaptasi dengan berbagai hal disini. Mungkin juga faktor lain yang membuat gue tidak mudah dengan banyak hal adalah karena gue sedang di usia masygul-masygulnya dengan apa yang ingin gue lakukan dalam hidup ini (juga apakah gue yakin untuk mengejar kehidupan akademisi), dan rasa kangen rumah terutama khawatir apakah nyokap gue bisa menyelesaikan semua hal berbau teknologi dirumah. Yah tapi pada akhirnya, gue tahu gue akan baik-baik saja. Gue sadar gue orang yang lemah, tapi gue hanya membiarkan untuk lemah pada satu malam dan keesokannya gue harus sudah bisa berdiri tegak.

Advertisements

One thought on “Mengejar Doktoral, awal 2017

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s