Menuju Britania Raya (Bagian 2)

Sebetulnya tulisan ini gue buat setelah sampai di Bristol, jadi gue akan berusaha mengingat poin penting lainnya selama perjalanan gue menuju negara ini. Perlu diingat lagi, ini adalah catatan perjalanan gue yang belum pernah keluar negeri sendirian. Paspor gue hanya memiliki 1 buah visa dan itu adalah visa umrah di 2007. Untuk memulai tulisan ini, mari kita lanjutkan dari packing gue.

Jadi packing itu gimana kak?

Ini gampang-gampang susah. Gue enggak asing dengan mengemas barang untuk ke lapangan. Untuk backpacking sekalipun gue biasa tinggal asal masukin baju yang sekiranya gue pengen difoto dengan, beres. Sekarang? Ajegile lu kayak begini. Poin dasar nih ya yang perlu dicatet: Beda maskapai, beda ukuran bagasi!

Kak aku dapetnya Etihad kak.

Bersyukurlah kamu nak, karena etihad membolehkan untuk pakai 2 bagasi dan maksimal masing-masing 23 kg. Kenapa gue garis bawahi? Hal ini penting ditekankan. Masing-masing. Bukan artinya boleh diakumulasi. Enggak. Iya enggak boleh diakumulasi. Jadi ya satu tas maksimal 23 kg. Enggak boleh lebih satunya 25 kg satunya 12 kg, enggak boleh. Kenapa gitu? Ya memang aturannya gitu. Enggak usah diprotes, terima aja. Mau kuliah ke negara penuh aturan kok masih mau nego atau ngakalin aturan. Kalau dari yang gue denger, katanya emirates 30 kg untuk satu tas. KLM cuma 20 sekian kg tapi yang boleh dibawa ke kabin itu bisa 12 kg.

Kak terus aku harus bawa apa aja kak?

Banyak dan sedikit. Saran gue, bawa baju sedikit atau untuk seminggu aja. Sisanya beli disini. Serius. Kan kita bukan mau jalan-jalan ya tapi mau belajar dan agak lama (lebih dari 1 bulan). Jadi mending beli aja baju di kota tujuan. Percayalah, harga baju hitungannya lebih murah (jauh!). Gue menemukan berbagai kaos di Primark (nama department store) hanya dengan 3 pound. Bahkan bantal 2 buah seharga 7 pound dan jaket varsity seharga 5 pound. Semurah itu. Kalau ada nilai kenangan dari baju-baju ya monggo dibawa. Disini orang juga enggak perduli sih kita mau pakai baju apa. Cuma gue pribadi sih agak malu pakai jaket kuning mentereng terus ada emblem organisasinya. Terlalu ngejreng aja sih gue kan anaknya suka warna kalem dan netral :). Sebelum ini makin panjang, mungkin akan gue buat per poin supaya lebih mudah ditemukan dan dibaca:

  • Pakaian: kayak yang gue bilang diatas tadi. Jaket bawa 1 atau 2 (ini udah berlebihan) aja. Mungkin lo akan mikir sayang uang beli disana. Cuma daripada lo ketahan di bagasi bandara dan obrak-abrik koper di meja check-in? Gue sih risih. Oh iya pastiin tanggal kedatangan lo musim apa. Gue sendiri yang biasa hidup di negeri tropis dan liburan selalu di negeri tropis, agak menderita begitu sampai di Inggris karena dingin. Secukupnya itu juga termasuk untuk celana dalam dan pakaian dalam ya.
  • Bumbu & Makanan instan: Indomie itu ada di inggris dan di toko asia. Jangan mempersulit hidup lo. Sambel, bumbu, dan lainnya, secukupnya aja. Jangan berlebihan. Selama bumbu ada labelnya, harusnya aman di imigrasi. Rendang itu untung-untungan. Ada yang kesita, ada yang lewat. Gue sih gamau mengambil resiko. Mending gue bikin sendiri rendangnya disini, gue bawa bumbunya aja.
  • Foto dan kenangan: Ini enteng, bawa! Penting banget untuk dukungan mental!
  • Sisanya cek aja di blog orang lain huhu gue sendiri sejujurnya bingung kenapa gue bisa pas bawa 46 kg dan ujung-ujungnya gue cuma pakai baju yang ada di daypack yang gue bawa ke kabin. Semalas itu untuk membongkar koper.

Adegan perpisahan di bandara? Penting!

Gue sendiri anaknya kan enggak terlalu sentimentil ya, tapi entah kenapa dilepas di bandara sama sahabat-sahabat dan keluarga tuh rasanya ngilu nyes gitu. Senang, sedih, kangen, semua tumbuh jadi satu (bukan lagu cinta adalah 3 diva). Pastikan disini (atau di rumah, untuk kondisi tertentu) pamit yang benar sama orang tua. Meskipun hubungan sama orang tua enggak baik, ga ada salahnya pamit. Karena pahit-pahitnya, ketika kamu pulang mereka akan jadi “rumah” tempat kamu pulang.

Kak konter cekinnya antrinya panjang?

Ya hoki-hokian. Enggak usah pakai fengshui segala sih, ya hoki aja. Tapi yang penting untuk dicatat disini, jangan takut tas kabin keberatan atau kegedean. Banyak orang asing yang pakai tas gunung super besar muncung kayak strobilus atau candi borobudur. Lewat aja kok mereka. Asal masih masuk akal sih harusnya aman kok. Oh iya untuk yang mau studi, selalu siapkan dokumen-dokumen penting di tas kabin. Surat sponsor, surat penerimaan, sertifikat TBC, ijazah, IELTS, siapin aja. Buat di makam nanti aja disiapin, masa beginian aja enggak disiapin? Gue pribadi pas mau cekin ditanya Surat Penerimaan dari kampus gue (LoA). Pas koper gue di hisab, gue agak panik takut lebih karena katanya kalau lebih akan kena charge bisa sampai $100. Dan eng ing eng ternyata lebih ringan 2 kg untuk masing-masing tas!

Siap-siap untuk di pesawat, sis!

Meskipun di etihad disediakan bantal leher dan headphone, gue sih bawa peralatan gue sendiri supaya nyaman. Apalagi headset yang kedap suara (dipakai kalau sudah di udara ya). Sama pastikan kalau perjalanan sampai diatas 6 jam, iseng aja jalan ke toilet. Mungkin memang ingin pipis, tapi kalau enggak, sekedar meluruskan kaki karena dari sistem faal kita, ada penyakit yang namana economy class syndrome. Buat yang malas buka, intinya ini penyakit karena darah “menggumpal” di kaki dan ketika kaki dilurusin, darah yang “menggumpal” ini bisa menyumbat pembuluh darah lain dan berbahaya. Demi hari tua nanti masih bisa berusaha mencoba ena-ena membuat keturunan, yuk jangan malas.

Eh… aduh… kok kebelet ya… kok… ga ada buat cebok…?

Selamat datang di barat! Iya, umumnya disini cebok pakai tisu. Bagaimanakah cara mensiasatinya? Jawabannya adalah:

  1. Menerima nasib, cebok pakai tisu: ini opsi yang jujurnya belum pernah gue lakukan. Maaf banget loh, tapi gue enggak tahan aja masih ada plak plak menempel. Hii.
  2. Menerima nasib, tapi masih berusaha: kalau lo agak beruntung, lo bisa cebok pakai tisu yang dibasahin dengan wastafel terdekat. Masih agak geleuh, tapi setidaknya terbasuh dengan air. Lumayan.
  3. Sudah sedia dengan medan perang: lo sudah sedia tisu basah. Silahkan usap.
  4. Lebih sedia dari yang sudah siap sedia: lo bawa botol minum. Isi dengan air wastafel terdekat, gunakan untuk membasuh.

Adapun catatan penting adalah: BUANG TISU SISA NGELAP KE KLOSET. JANGAN KE TONG SAMPAH. Kalau tisu basah, pastikan tisunya flushable (ada di kemasan). Habis itu cuci tangan, bahagia deh. Adapun kalau mau langsung ambil nomor 4 tapi enggak punya botol, bisa beli di bandara. Umumya jual tapi agak mahal. Gue pribadi mengalami momen penyucian yang mewah ketika gue bebersih dengan evian (yang harusnya gue minum dulu, lalu isi dengan air wastafel).

Perlu bawa Euro/Dollar enggak sih kak?

Gue sih bawa USD aja, secara lebih universal. $20 juga sebetulnya udah banyak karena di pesawat lo akan dikasih makan terus. Ketika transit lo harusnya enggak akan kelaparan. Gue sendiri merasa lelah dan lemas ketika transit jadi lebih pilih untuk duduk dan tidur. Dolar itu gue pecah karena… gue beli evian. Sisanya silahkan rujuk ke atas. Oh iya, toko-toko di bandara itu umumnya menerima berbagai mata uang tapi kembaliannya akan dalam bentuk mata uang lokal mereka. Gue beruntung karena beli evian di Amsterdam. Teman gue yang namanya tidak akan gue sebutkan, beli sesuatu di Abu Dhabi dan dia bingung harus melakukan apa dengan dirham-nya.

Kak aku masih belum tahu mau tinggal dimana kak, nyari let kok susah banget kak?

Memang sulit! Gue sendiri belum dapat setelah seminggu “menggembel” di Bed and Breakfast (BnB). Gue agak menyesal karena mengandalkan AirBnB padahal di Bristol ada hostel yang memang terkenal dan murah: Rock n Bowl! Meskipun disini sistemnya bunk bed, tapi gue merasa nyaman karena orang yang menginap disini jarang ada di kamar. Gue sendiri detik ini ada di kamar 6 kasur dan hanya gue sendiri. Nyaman. Jadi coba cari dulu hostel yang murah dan umum dipakai pendahulu, baru pakai AirBnB.

Jadi pesan moralnya apa kak?

Kemas lah barang-barang yang perlu. Panci, happy call, buste cream, PS3 sampai karpet DDR, tinggal semuanya! Wak doyok atau minyak firdaus sih preferensi sih ya. Tapi intinya, semua bisa dibeli nanti. Oh iya kalau ada yang mau ke inggris gue nitip dove dong huhu disini baunya beda padahal itu yang bikin bantal nyaman ditiduri 😥

Jadi ini adalah bagian terakhir dari menuju Britania Raya. Kalau ada yang mau menanyakan ke gue, silahkan komen aja nanti gue akan jawab kok. Cheers 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Menuju Britania Raya (Bagian 2)

  1. Nambahin aja ryl, jadi sejatinya alesan kenapa allowancenya 2×23 kg itu karena safety concern (buat para crewnya, safety rule dilapangannya, dan buat lo sendiri-kecuali lo emang binaragawan yang udah yakin kaga bakal sengklek ngangkat tas 46kg) dan buat ngatur distribusi berat di pesawat itu sndiri (jadi smua lugagge bisa dipukul rata seberat2nya ya 23kg). As far as i know loh ya haha hope that helps!
    *cie cheers*

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s