Ulasan: Atelier Firis – The Alchemist and The Mysterious Journey

Halo!

Kali ini gue mau mengulas pengalaman gue tentang bermain game Atelier Firis ini. Informasi singkat, Atelier Firis ini merupakan game ke-18 dari seri Atelier dan game kedua dari seri “Mysterious”. Satu hal yang perlu diingat kalau ingin memainkan game ini, game ini memiliki relung konsumen yang sangat spesifik. Game ini tidak seperti game-game mainstream seperti seri Final Fantasy yang mengutamakan grafik dan segala efek yang luar biasa, tidak. Game seri Atelier ini lebih untuk bermain santai dengan cerita yang ringan namun menitik beratkan pada sistem permainan untuk memproduksi barang. Seperti judulnya, Alchemist, adalah seseorang yang menggunakan properti suatu bahan untuk mengubah bahan tersebut menjadi barang lain. Lagi, jangan membayangkan seperti seri Fullmetal Alchemist. Seri Atelier ini benar-benar untuk mereka yang menikmati memutar otak dalam mengumpulkan bahan dan menciptakan barang dengan properti tertentu. Pada seri terdahulu, seri Atelier ini cukup menitik beratkan pada spirit dan mana (bayangkan summon dari seri Final Fantasy) namun pada seri-seri terbaru, sistem tersebut mulai dihilangkan dan lebih berfokus pada produksi barang. Gue memainkan game ini di PS4, namun sepaham gue, game ini juga tersedia di Steam dan di PS Vita.

Hasil gambar untuk atelier firis

Secara cerita, Atelier Firis tentunya menceritakan tentang gadis bernama Firis; gadis yang seumur hidupnya terkurung dalam goa (harafiah) dan sebegitunya menginginkan melihat dunia luar. Dari awalnya semua hanya mimpi, namun berubah ketika Firis bertemu dengan Sophie (seorang Alchemist dari seri sebelumnya, Game ke-17). Dengan bantuan Sophie, Firis mempelajari Alchemy dan berangkat menuju dunia luar, dari situlah judul “Atelier Firis – The Alchemist and The Mysterious Journey” diambil. Hal yang harus dipahami dari game ini adalah ini bukan tipikal game dengan karakter antagonis dan Firis adalah superhero yang akan menyelamatkan dunia, bukan. Karena ini adalah game tentang perjalanan Firis. Bagaimana firis melihat dunia luar dan menjadi lebih dewasa.

Oke, secara gameplay, menurut gue Atelier Firis ini sedikit mengalami kemunduran dari seri sebelumnya, Atelier Sophie. Mengapa? Karena di Atelier Sophie kita diberikan sistem buku resep yang memberi petunjuk harus melakukan apa untuk membuka resep barang baru sedangkan di Atelier Firis, sistem ini digantikan dengan sistem “Ide” yang bisa muncul sewaktu-waktu. Pada Atelier Sophie, sistem buku resep sangat menyenangkan karena memungkinkan kita untuk mengkoleksi semua resep yang mungkin dibuat. Sedangkan pada Atelier Firis, hal tersebut agak sulit karena darimana gue bisa tahu kalau gue harus membuat “bomb” secara spesifik 50 kali untuk mendapatkan ide membuat “mega bomb”?

Secara cerita dan karakter, ketika tengah memainkan game ini, gue sadar banyak dialog yang agak kering dan humor yang sangat spesifik. Memang pada dasarnya, game ini bukanlah untuk dinikmati semua orang. Tapi satu hal yang membuat gue tertegun adalah ketika selesai memainkan game ini dan melihat video pembuka di youtube, gue baru sadar kenapa gue sesuka itu dengan game ini. Karena game ini menceritakan tentang perjalanan Firis. Gue seolah bisa menghubungkan diri gue dengan Firis ketika gue berangkat menuju Inggris. Ketika lo besar di satu daerah tanpa benar-benar melihat dunia dengan mata kepala lo sendiri. Ketika lo menjadi “norak” dengan dunia luar, bertemu banyak teman baru hingga harus “meracik” berbagai larutan untuk bertahan hidup (gue paham bagian ini karena meracik feromon adalah pekerjaan gue disini).

Secara kesimpulannya, gue menikmati game ini. Apalagi ketika gue merasa tertantang untuk mengkoleksi trophy platinum dalam game ini dan gue harus memaksimalkan poin pertemanan dengan seluruh party memberBattle di game ini juga tidak terlalu sulit karena barang dengan properti kuat bisa dibuat asalkan mau grinding dan bersabar mengumpulkan bahan. Bonus terakhir ketika sudah menamatkan game ini juga cukup menyenangkan ketika bisa mendengar semua musik dalam game ini dan baru menyadari musik-musik dalam game ini cukup ringan untuk didengar. Gue merekomendasikan game ini untuk orang-orang yang cukup bersabar dengan sistem grinding dan untuk mereka yang menyukai cerita dengan kata kunci “Journey”.

Atelier Firis ~The Alchemist and the Mysterious Journey~_20171014002846

Atelier Firis ~The Alchemist and the Mysterious Journey~_20171109190620

Advertisements

Ulasan: Daughters of the Dragons

Wow.

Cuma itu kata yang bisa keluar dari mulut gue ketika sampai di kalimat terakhir dari buku ini. Kata “wow” itu sendiri bukan pertama kalinya keluar di akhir buku ini, tapi sudah menemani gue selama 3 hari gue berusaha menyelesaikan buku ini ditengah-tengah kesibukan mengerjakan pekerjaan lab dan menulis abstrak. Gue benar-benar merasa buku ini memberikan gue pandangan baru akan sejarah perang dunia kedua dan membuat gue beberapa kali depresi.

Jadi, sejarah tidak pernah menjadi topik favorit gue. Baik itu tentang kerajaan sriwijaya dan periode sekitarannya, tentang perang dunia kedua, hingga detik-detik menuju kemerdekaan Indonesia. Ya, nilai sejarah gue semenjak bangku sekolah tidak pernah berada diatas angka 7. Bahkan untuk beberapa hal seperti apa itu komunis, apa itu kapitalis, semua hanya sekedar pemahaman asal lewat dari membaca berita yang beredar di jejaring sosial dan beberapa clickbait provokatif.

Daughters of the DragonA Comfort Woman Story adalah buku fiksi dengan latar belakang sejarah yang diusahakan seakurat mungkin. Buku ini menceritakan tentang karakter fiksi, seorang wanita korea yang dijadikan perempuan penghibur bagi tentara jepang. Tapi, buku ini tidak hanya sampai pada saat sang wanita ini menjadi penghibur, buku ini juga membahas aspek sejarah hingga setelahnya dengan berpusat pada Korea sebagai pusatnya.

Gue paham, untuk mengetahui hingga bisa berkata “paham” seutuhnya tentang komunisme dan kapitalisme, gue harus membaca banyak buku terlebih dahulu. Tapi gue akui, buku ini berhasil membuat gue berpikir pada konsep dasarnya, mungkin kedua konsep tersebut terlihat baik. Namun pada kenyataannya, banyak pelaksanaan yang korup dan kotor sehingga ketika kedua paham tersebut menapaki titik ekstrem, kedua paham tersebut menjadi berbahaya. Kalau komunisme, gue rasa kita cukup paham dengan sejarah kita (meskipun gue sadar gue masih perlu banyak belajar lagi) dan gue cukup paham dimana komunisme menjadi salah sehingga bisa melihat keterkaitannya dengan sejarah kita. Sedangkan untuk kapitalisme, gue juga melihat penggambarannya dalam cerita ini, bagaimana sebuah nyawa bisa selamat tapi dari situ juga gue menjadi mempertanyakan apa arti selamat ini.

Terlepas dari kedua paham tersebut, buku ini juga membuat gue sedikit lebih paham apa yang terjadi dengan perang dunia kedua. Bagaimana posisi Jepang, bagaimana posisi Rusia dan bagaimana posisi Amerika. Gue suka bagaimana penulis menyelipkan latar ini ditengah drama kehidupan Jae-Hee.

Lagi, menjadi tawanan perang secara konsep tidak akan pernah mudah. Buku ini berhasil memberikan gambaran dalam benak gue bagaimana seorang wanita yang tidak paham apapun menjadi tawanan perang dan nasibnya ketika menjalani masa menjadi tawanan — mengerikan. Tapi hal ini justru menjadi sebuah titik bagi gue untuk membuka pikiran gue. Kenapa belajar sejarah itu menjadi penting.

Ada juga satu hal yang membuat gue suka dengan buku ini adalah bagaimana kekuatan seorang wanita dalam menjalani hidup. Cerita ini mengangkat tema hidup itu tidak adil, tapi bagaimanapun juga, kita tidak bisa memilih akan dilahirkan dimana dan oleh siapa. Hal yang bisa kita lakukan hanyalah menjalani dan berjuang untuk hidup. Memang tidak mudah, meskipun cerita ini fiksi, tapi kehidupan sebagai gadis penghibur pada masa perang benar terjadi. Mungkin apa yang mereka alami tidak sama persis dengan penggambaran dalam buku ini. Tapi bukan berarti yang mereka alami menjadi lebih ringan.

Dan terakhir, gue suka bagaimana penulis bisa menyelipkan 3 sudut pandang dalam satu buah cerita tanpa terasa janggal. Ketika gue selesai membaca buku ini, seketika itu pulalah gue paham kenapa penulis buku ini membuat sebagian cerita menjadi naratif masa sekarang. Karena hanya dengan gaya penulisan itulah momen tersebut dapat tersampaikan dengan baik. Dan dari sadar akan hal inilah membuat gue bisa menyimpulkan gue juga belajar soal gaya penulisan sastra.

Untuk singkatnya, gue berhasil mempelajari sejarah, pesan moral hidup dan gaya penulisan sastra hanya dari membaca satu buku ini. Gue paham, semua pelajaran itu hanya sebagian kecil dari semua pengetahuan yang ada di dunia ini. Tapi kembali lagi, buku ini menjadi sebuah bacaan yang bisa membuat gue tertarik dari bab pertama dan membuat gue berhasil menyelesaikan buku ini. Sehingga, menurut gue, inilah yang penting dari sebuah buku. Ketika seorang penulis bisa membuat pembacanya terpaku dari bab pertama.

Sains 001 : Mencit tidak sama dengan Tikus

Halo semua,

Gue sebetulnya udah lama ingin menulis dan membuka kategori ini disini, tapi baru ada mood nya sekarang. Intinya sih, di kategori sains ini gue akan mencoba menulis hal-hal berbau sains yang gue temui sepanjang perjalanan gue menjadi saintis dan menterjemahkannya dalam bahasa indonesia sekaligus bahasa populer. Tujuannya apa? Meningkatkan pengetahuan dan argumentasi logis orang Indonesia. Jujur gue sangat gemes ketika omongan “kata si x pakai ini aja, ampuh loh” menjadi patokan kepercayaan dalam menjelaskan fenomena alam. Jadi ini langkah konkrit gue dalam menyalurkan rasa gemas gue.

Continue reading

Halo Indonesia, saya pulang (sebentar)

Halo Jakarta,

Jadi ceritanya, gue berkesempatan untuk pulang ke Indonesia selama 3 minggu selama periode paskah. Kenapa paskah? Karena gue memanfaatkan waktu tutup kampus dimana akses lab gue akan terbatas. Gue juga pulang padahal baru 6 bulan di Britania Raya adalah karena gue enggak tahu kapan lagi akan bisa pulang dan gue juga kangen ibu dan adik gue. Singkat cerita, gue kepikiran untuk mencoba penerbangan langsung dari Garuda Indonesia selama 13 jam. Gue tinggal naik bus dari terminal yang berjarak 5 menit dari flat gue – duduk manis sampai bandara Heathrow, London – Naik pesawat dan duduk manis 13 jam – sampai Jakarta dan dijemput ibu serta adik gue. Mudah.

Continue reading

Banana Bread Bottom Cheesecake

Halo,

Jadi asal muasalnya, gue menemukan resep ini dari buzzfeedtasty di instagram. Selidik punya selidik, resep ini juga ada di laman mereka beserta videonya. Pertama gue melihat resepnya, gue berpikir kenapa enggak untuk bikin ini berhubung gue sudah lama enggak buat cheesecake dan kebetulan ingin punya stok camilan berlimpah dan selain es krim.

Namun tiba-tiba, negara api menyerang. Tetangga gue baru-baru ini memulai pola makan tanpa gula tambahan. Sebetulnya, kalau gue mau egois, gue bisa aja untuk membuat sendiri sesuai selera gue dan cuek. Tapi gue selalu ingat kalau membuat makanan itu jauh lebih asik ketika memang sengaja dibuat karena ada tujuannya dan penerimanya bisa menikmati dengan senang. Agak lucu sih kalau dipikir, ketika seharusnya tetangga gue yang lebih banyak “memaklumi” gue karena keterbatasan bahan makanan yang bisa gue pilih karena agama, justru gue yang malah banyak memaklumi tetangga gue karena dia dengan pola hidup sehatnya. Hal baiknya adalah gue jadi belajar dan terbawa dengan pola makan sehatnya. Dari sinilah gue memutuskan untuk melanjutkan membuat cheesecake ini tapi dengan versi ulikan gue dimana tanpa menambahkan gula tambahan (challenge accepted!).

Continue reading

Jalan-jalan ke Cheddar Gorge

Sebetulnya ini kejadiannya sudah tahun lalu (27 Desember 2016) tapi gue baru sempat untuk menulis ini sekarang. Jadi beginilah cerita petualangan Dandri yang nyaris mati kedinginan di Lembah Cheddar (Cheddar Gorge) karena biasanya hidup di kamar tropisnya dengan pemanas kekuatan penuh. Oh iya, obrol-obrol Lembah Cheddar ini adalah tempat produksi awalnya keju jenis cheddar (kata orang-orang disana).

Jadi cerita ini dimulai dari gue yang selesai dengan pekerjaan gue di kampus tepat 2 hari sebelum natal. Dengan mendadak gue sadar gue perlu jalan-jalan. Awalnya gue mau ke Taman Nasional Exmoor. Sayangnya akomodasi disana penuh karena mendadak dan musim liburan, jadilah gue mencari alternatif dan gue ingat ada Lembah Cheddar di daftar gue. Sedikit mencari di jejaring dan selesailah gue mem-booking tiket untuk satu hari berkeliling di Lembah Cheddar sebesar £16. Mungkin mereka lagi berusaha memperkenalkan sistem daring, karena harga aslinya adalah £19 tapi kalau beli daring didiskon 15%. Continue reading

Patatas Bravas

Halo,

Ini salah satu resep yang baru aja gue bikin kemarin karena kebetulan gue punya sisa kentang dan berusaha menghabiskan berbagai isi kulkas dari tahun baru sebelum melewati masa kadaluarsa (terlalu jauh). Patatas Bravas ini sih sebetulnya gue ambil dari bbcgoodfood, hasil dari googling dan yang kebetulan muncul paling atas. Jadi resep ini tuh pas banget buat menemani menulis proposal dan membuat essay malam-malam karena sebetulnya mudah dan bisa ditinggal (karena pakai oven). Meskipun tautan BBC nya bisa diklik, gue akan menulis ulang disini dengan bagaimana gue membuatnya sendiri karena gue sendiri kalau masak pengen yang simpel aja. Continue reading